Terimakasih Atas Kunjungannya

Selamat datang teman-teman sekalian... Terimakasih atas kunjungannya... Jangan lupa, sering-seringlah berkunjung agar bisa berbagi informasi tentang hobby kita ini. Thanks... Arigatoo, Merci... Xiexie... Danke...

Minggu, 05 September 2010

Giok di Tengah Salju


Pengarang : Chiung Yao
Penerjemah : Pangesti A Bernadus, Nita Madona Sulanti, Indrawati Tanoto, Pangestuti Bintoro
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua Juli 1997

MESKI tumbuh besar bersama, Hsueke dan Ku Yameng hidup dalam dunia berbeda. Hsueke putri keluarga Dinasti Machu dari Kepangeranan Wang, sementara Yameng putra ibu susunya, Bibi Chao. Tapi mereka jatuh cinta, dan tak direstui karena status yang berbeda dan karena Hsueke telah dijodohkan dengan putra keluarga Luo. Mereka nekat kawin lari. Pangeran Wang menemukan dan menangkap mereka.
Padahal pernikahan yang tak direstui itu sudah membuahkan janin. Pangeran Wang shock. Dia ingin membunuh Yameng, tapi Bibi Chao dan Hsueke melindunginya dengan tubuh mereka. Melihat Hsueke nekat, Nyonya besar Wang yang sangat mencintai putrinya, membujuk suaminya, karena tanpa Hsueke, dia juga akan mati. Pangeran Wang melunak. Dia membiarkan Hsueke melahirkan anaknya karena menolak mengugurkan dan mengancam bunh diri. Dia juga membiarkan Bibi Chao hidup, tapi diusir dari Beijing. Sementara Yameng diasingkan menjadi pekerja tambang di Shinchiang.Imbalannya, setelah melahirkan, Hsueke harus tetap menikah dengan putra keluarga Luo. Berkat bujukan Ku Yameng yang memintanya bertahan hidup meski menderita dengan harapan bisa bertemu lagi, Hsueke pun menyetujui syarat ini.
Setahun kemudian, Hsueke melahirkan. Dia hanya sekali melihat bayinya, dan tidak tahu jenis kelaminnya. Nyonya Besar Wang membawa bayi itu pergi. Tapi Hsueke memohonn agar bayinya tidak dibunuh, karena itu yang diinginkan ayahnya. Nyonya Besar Wang memberikan bayi itu kepada Bibi Chao dan menyuruhnya mencari Yameng dan hidup bersama. Dia memberi uang sebagai bekal mereka.
Hsueke nikah dengan Luo Chikang dari keluarga pejabat Luo. Demi memelihara kesetiaannya kepada Ku Yameng, saat malam pengantin, Hsueke berterusterang pada Chikang, dia bukan gadis lagi karena sudah pernah menikah. Chikang sangat marah dan mengadukan pada orangtuanya. Dia ingin bercerai. Tapi Nyonya Besar Luo mengatakan bercerai berarti menuruti keinginan Hsueke. Dia ingin Hsueke tetap menjadi menantu keluarga Luo untuk menyiksanya dalam penderitaan. Dia juga menghukum Hsueke dengan memotong jari kelingkingnya sendiri. Pangeran dan Nyonya Besar Wang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Hsueke.
Delapan tahun berlalu, jaman berubah, pemerintahan berganti. Kekaisar Manchu runtuh, berganti jadi republik. Tuan besar Luo tak lagi jadi pejabat dan meninggal. Nyonya Besar Luo membawa keluarganya pindah ke Chengte, termasuk Hsueke. Di kota ini Chikang menjalankan bisnis dan bersahabat dengan seorang jenderal yang berkuasa. Dia juga menikah lagi dengan Ciashan yang memberinya seorang putra bernama Yulin.
Saat itulah Bibi Chao yang tidak berhasil menemukan Yameng datang ke Chengte bersama cucunya, Hsiao Yutien. Dia miskin dan sakit-sakitan. Mengira neneknya memerlukan uang untuk berobat, Hsiao Yutien bersedia dijual ke keluarga Luo sebagai pelayan. Bibi Chao bermaksud menemui Hsueke yang sudah menjadi Nyonya Muda Luo untuk mengatakan siapa sebenarnya Hsiao Yutien. Tapi Bibi Chao keburu meninggal. Pelayan penginapan menguburnya, dan Hsiao Yutien hanya sempat menziarahi makamnya dengan sedih. Pertama melihat Hsio Yutien, hati Hsueke sudah tergetar. Dia selalu tergerak untuk melindungi dan membela pelayan kecil ini bila mendapat kesulitan.
Sementara itu di kediaman Pangeran Wang, seorang tamu bernama Kao Han datang berkunjung. Ternyata dia Yameng yang sudah diangkat anak oleh pengusaha dari Fuchien bermarga Kao dan mengganti namanya menjadi Kao Han. Melihat kehadirannya, Pangeran Wang marah, tapi Ahte, pembantu setia, selalu melindungi Kao Han. Dari Nyonya Besar Wang, Kao Han mengetahui anaknya perempuan dan diberikan kepada ibunya supaya mereka bisa mencarinya. Tapi mereka tidak bertemu. Nyonya besar menyuruhnya mencari mereka, dan tidak mengganggu Hsueke yang sudah menjadi menantu keluarga Luo di Chengte.
Kao Han justru ingin menemui Hsueke karena menduga ibunya akan menghubungi Hsueke. Ketika melihat Hsueke, dia tahu Hsueke tidak bahagia. Apalagi, Feichui, pelayan setia, Hsueke berhasil menemuinya dan bercerita banyak tentang penderitaan junjungannya. Ketika bertemu Kao Han, Hsueke menyuruhnya mencari Bibi Chao dan anak mereka.
Kediaman Luo geger karena Hsio Yutien hilang. Sebelumnya dia sudah minta ijin mengunjungi makam neneknya karena neneknya ulangtahun. Mendengar hal ini, Hsueke terkejut karena Bibi Chao juga berulangtahun. Dia menawarkan diri ikut mencari ke makam. Dari nisannya, dia mengetahui siapa nama nenek Hsio Yutien. Setelah bertanya beberapa hal dia yakin Hsiao Yutien adalah anaknya dengan Ku Yameng.
Untungnya, Yameng belum berangkat mencari ibu dan anaknya. Dia kaget mendengar dari Hsueke, Bibi Chao membawa anak mereka bertemu dengannya sebagai pelayan. Keduanya senang sekaligus sedih. Sibuk memikirkan cara untuk mengeluarkan Hsiao Yutien dari kediaman keluarga Luo. Padahal Chikang sudah mulai merasa curiga melihat sikap Hsueke yang mencurigakan. Kao Han bermaksud menemui Chikang untuk bicara dan meminta istri dan anaknya, karena dia sendiri sudah menikah lagi dan mempunyai anak juga. Tapi Hsueke yang sangat mengerti tabiat Chikang mencegahnya.
Yameng meminta bantuan Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Mereka berangkat ke Chengte. Ketika membahas masalah perceraian, Chikang menolak mentah-mentah. Atas saran Ciashan, dia mengakui mencintai Hsueke, dan ingin mengubah perlakuannya selama ini. Pangeran dan Nyonya Besar Wang termasuk Hsueke terkejut mendengar pengakuan ini. Mereka bermaksud memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan Hsiao Yutien untuk dibawa Pangeran dan Nyonya Besar Wang. Perhatian mereka kepada pelayan kecil ini membuat Nyonya Besar Luo curiga, dan dia langsung bisa membongkar identias Hsiao Yutien dan membuat Chikang marah besar.
Keadaan semakin rumit ketika Pangeran Wang dan Yameng memutuskan menggunakan kekerasan. Yameng datang dan berterus terang dia adalah sumia pertama Hsueke dan ayah Hsiao Yutien. Mereka menculik Chikang untuk ditukar dengan Hsueke dan Hsiao Yutien. Hsueke merasa serba salah ketika harus memilih memenuhi janjinya kepada Chikang ataukah berkumpul kembali dengan keluarganya, karena setelah dia berada diambang kematian baru Chikang merelakan untuk melepaskannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar